Category Archives: Artikel

Penjelasan Terlarangnya Beragama Dengan Akal Pendapat Semata

Dari Abdul Aziz bin Roofi’ berkata : Atho’ ditanya tentang suatu perkara lalu menjawabnya, ‘Aku tidak mengetahuinya.’ Kemudian dikatakan padanya, ‘Tidakkah engkau memiliki pendapat padanya ?”.
Beliau menjawab, “Sungguh aku merasa sangat malu terhadap Allah ‘Azza wa Jalla kalau pendapatku dijadikan agama di muka bumi ini”. [Dikeluarkan oleh : ad-Darimi dalam Muqoddimah Sunannya 1/230, dengan sanad shahih) .

Berkata Syaikh al-Imam hafidhohulloh : “Ialah sebuah pendapat yang dibenci oleh Ahlissunnah untuk dijadikan sebuah keyakinan untuk Allah adalah pendapat atau ide-ide yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah.”

Pendapat-pendapat semacam ini ada beberapa macam ragamnya telah dijelaskan oleh Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam Al ‘Ilam nya 1/67-69.

Sebuah pendapat yang bathil bermacam-macam :

1. Sebuah pendapat yang menyelisihi an Nash (Al Kitab dan As Sunnah ).
2. Sebuah ucapan dalam perkara agama atas dasar dugaan ataupun terkaan perkiraan belaka yang tidak mengacu pada nash dan mengenyampingkannya .
3. Sebuah pendapat yang mengandung penyelewengan pada Asma’ wa Sifatillah dari qiyas.
4. Sebuah pendapat yang memunculkan sebuah kebid’ahan dan merubah sunnah Rasulullah .

Ke-4 macam pendapat yang muncul dari akal ini bersepakat para pendahulu kita dan para imam atas tercelanya dan pengeluarannya dari agama .

Adapun yang ke-5 sesuai dengan yang telah disebutkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dari jumhur ahlil ilmi bahwa sebuah pendapat dan kesimpulan yang dicela dan tercela sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari Nabi atau para sahabat atau tabi’in yaitu sebuah pendapat di dalam hukum-hukum agama dengan sebuah anggapan-anggapan baik, prasangka belaka, penyibukan diri dengan masalah-masalah rancau dan ruwet kemudian menghukumi suatu masalah satu atas yang lainya dengan cara mengkias-kiaskan.
Dan tidak mengembalikan kapada ushul (Al Kitab dan As Sunnah) dan meneliti pada alasan-alasan dan penempatan hukumnya.[al-Ibanah, hal 31]

Diterjemahkan secara ringkas oleh : Al-Ustadz Abul Hasan al Wonogiri

 

[Grup Whatsapp Salafiyin Cikarang]

Janganlah kalian Tertipu Bahwa Belajar Hanya Untuk Mendapatkan Ijazah/Syahadah

قوله تعالى :السجدة:24.قال الشافعي رحمه الله:لما أخذوا برأس الأمر جعلهم الله رئيسا.إه.وقال سفيان بن عيينة رحمه الله:بالصبر واليقين تنال الإمامة في الدين.إه.وبه قال أيضا إبن القيم رحمه الله.أفادنا الشيخ عبد الرحمن هذه الفاءدة العدني في درسه نقلها من
جامع البيان.

C9IK4Ud9vb

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah memberikan faidah dalam surat Sajdah : 24 dengan berkata : “Tatkala mereka mengambil/menjalankan pokok/pangkalnya dari berbagai macam urusan (yaitu sabar & yakin), maka Allah ‘Azza wa Jall menjadikan mereka pemimpin.”

Berkata pula Sufyan bin Uyainah  dan menukil dari beliau Ibnul Qoyyim rahimahumallah : “Dengan kesabaran dan penuh keyakinan (dalam menuntut ilmu agama dengan tentunya tetap menjaga keikhlasan), maka akan tercapailah kepemimpinan dalam agama ini.”

Faidah ini disebutkan oleh Syaikh kita Abdurrohman Al ‘Adeni hafidzohulloh wa ro’aah dalam sela-sela pelajarannya. Beliau nukilkan dari kitab Jami’illbayan karya Ibnu ‘Abdil barr rahimahullah.

-Adapun yang dalam kurung tambahan penjelasan saja.-

Wal ‘ilmu ‘Indallah

Nasehat Asy Syaikh Ahmad Bazmuul hafidzahullah : “Janganlah kalian tertipu bahwa belajar  hanya untuk mendapatkan ijazah/syahadah.”

Sumber : Grup whatsapp Salafiyin Cikarang [Faidah dari Al-Ustadz Abu ‘Ubaidah ‘Abdurrahman hafidzahullah]

Adab-adab Penuntut Ilmu

                                                 كما ذكر الشيخ مقبل رحمه من آدب طلبة العلم :

book_pen_ink


١. الإخلاص لله
٢. الصبر على تحصيل العلم و مذاكرته و رعايته و صيانته و تبليغه
٣. تقوى الله
٤. الإستمرار و المداومة على طلب العلم ٥
٤. التواضع لله و ترك الكبر
٥. شكر العلماء الذين استفدت منهم و الدعاء لهم و الترحم عليهم
٧. البعد عن أهل البدع و كتبهم و علماءالسوء و كتبهم
٨. الحرص على مجالسة الصالحين و أهل الفضل
٩. المحافظة على الوقت و الصحة
١٠ الإهتمام باللغة العربية
١١. الرحلة في طلب العلم
١٢. الإبتعاد عن التقليد
١٣. البعد عن الجدل
١٤. التثبت في الفتوى
( مختصرا من نصيحتي لطلبة العلم للشيخ مقبل رحمه الله )

Adab adab Penuntut ilmu sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muqbil rahimahullah :
1. Ikhlas karena Allah
2. Bersabar dalam menggapai ilmu, mengulanginya, menjaganya, memelihara serta menyampaikannya
3. Bertaqwa kepada Allah
4. Rutin dalam menuntut ilmu
5. Tawadhu karena Allah dan meninggalkan sifat sombong
6. Mensyukuri Ulama yang telah memberi faedah kepadamu, mendoakan mereka dengan kebaikan dan menyayangi mereka
7. Menjauh dari pelaku bidah dan buku mereka serta ulama jelek dan buku mereka
8. Semangat diri bermajlis dengan orang sholeh dan mulia
9. Menjaga waktu dan kesehatan
10. Memperhatikan dan sungguh-sungguh dalam belajar bahasa arab
11. Melakukan perjalanan dalam menuntut Ilmu
12. Menjauhkan diri dari sikap taklid
13. Menjauhkan diri dari perdebatan
14. Berhati hati dan kokoh
dalam berfatwa

[Diringkas dari : Nasehatku untuk penuntut ilmu,
Syaikh Muqbil rahimahullah]

Wallahu a’lam

Sumber :  Whatsapp Salafiyin Cikarang [ditulis oleh : Al-Ustadz Abul Hasan al Wonogiri]

Hukum menggunakan kain jins ( levis).

pertanyaan : ” apa hukum menggunakan pakaian yang terbuat dari bahan jins ( levis ) karena kenyamanan dan tebalnya kain ini , apakah termasuk dari tasyabuh dengan orang kafir ?

jawab : ” at-tasyabuh adalah : melakukan sesuatu ( didalamnya perbuatan atau ucapan atau berpakaian ) yang menjadi kekhususan suatu kaum “. apabila seseorang menggunakan kain ini atau yang lainnya yang menyerupai pakaian -pakaian orang kafir maka ini masuk dalam tasyabuh yang dilarang agama . adapun menggunakan pakaian yang terbuat dari kain ini akan tetapi berbeda dengan model -model pakaian orang kafir maka ini bukan merupakan tasyabuh “. ( fatawa usroh muslimah sheikh utsaimin ).

Untaian Nasehat Persahabatan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ditulis oleh : al-Ustadz Abul Hasan

Cikarang – Bekasi

ADAB-ADAB PERSAHABATAN

1. Akhlaq yang mulia  ( akhlaaqul kariimah ).

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

 dan sesungguhnya engkau benar-benar diatas akhlaq dan budi pekerti yang mulia “                 

disebutkan oleh ibnu rojab dalam jamii’nya termasuk dari akhlaq yang mulia adalah : “  budi pekerti yang mulia  , sifat bijaksana dalam keputusan , sifat malu , rendah hati , menahan dari mengganggu orang lain dengan ucapan atau perbuatan , memaafkan kesalahan , menahan amarah , berseri didepan teman , bersabar dengan gangguan teman .

Ditanyakan  pada  Ibnul Mubaarok : ” Ringkaskan untuk kami bagaimanakah akhlaq yag mulia itu : tinggalkanlah sifat amarah “.

Berkata   Ja’far bin Muhammad : ” Kemarahan itu kunci dari segala keburukan “.

Berakhlaq dengan akhlaq yang mulia tidak hanya teruntuk sesama muslim akan tetapi juga untuk semua manusia dan juga untuk binatang , untuk sesama muslim karena mereka adalah saudara kita yang sebenarnya didunia dan akhirat nanti , untuk orang kafir sebagai bentuk da’wah kepada mereka dan menunjukkan kemuliaan agam islam pada mereka .

قالوا : يا رسول الله ما خير ما أعطي الإنسان ؟ قال : ” الخلق الحسن ” رواه البيهقي في ” شعب الإيمان ”

Ditanyakan kepada beliau : ” Ya Rosululloh ! Apakah pemberian yang terbaik yang diberikan kepada seseorang ? beliau menjawab : ” Akhlaq yang mulia ”

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” بعثت لأتمم حسن الأخلاق ” رواه الموطأ ”

Beliau juga bersabda : ” Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia “.

2. Memperbaiki dan menutupi kejelekan serta aib  saudaranya .

Jangan menghina cacat yg ada pada org lain , Jika cacat tersebut terdapat dalam akhlak dan agamanya, bantulah ia untuk mmperbaikinya.

Jika cacatnya pada fisiknya, beradablah kepada yg telah mnciptakannya .

begitulah seharusnya kita bersikap pada makhluk ciptaan alloh karena dengan begitu kita akan menerima kekurangan saudara kita sebagaimana mereka bisa menerima kekurangan diri kita , dimana tiada makhluk yang sempurna hanya dialah yang maha sempurna  , adapun kekurangan itu disempurnakan dan ditutupi , bukan dihina dan disebarkan .

siapakah yang sempurna…? takkan engkau dapati manusia yang sempurna sisi sempurna disisi yang lain tiada sempurna . apabila engkau pandang manusia dari segala sisi engkau akan mendapati kesempurnaan , mudah dalam memaafkan setiap kesalahan , mudah dalam bersikap tawadhu’ dan  yang lainnya .

 apabila engkau pandang manusia dari satu sisis engkau dapati semuanya akan kurang dan begitu sebaliknya apabila engkau pandang dari sisi yang lain engkau akan dapati semua sempurna sebagaimana ungkapan seorang penyair :

فعين الرضا عن كل عيب كليلة … ولكن عين السخط تبدي المساويا

” pandangan keridhoan akan menampakkan keburukan sebagai kebaikan…

akan tetapi pandangn kebencian menampakkan semua kejelekan…..

 

Ada Apa dengan Uban..?!?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Ditulis oleh : al-Ustadz Abul-Hasan al-wonogiry hafizhahullah

Cikarang – Bekasi

 

Disebutkan dalam hadits Amr bin Syu’aib : “Janganlah kalian mencabut uban ,karena itu cahaya seorang muslim ( dalam lafadz yang lain : mu’min ) tidaklah seorang muslim yang tumbuh ubannya melainkan ditulis untuknya satu kebaikan dan diangkat derajatnya ….” (Dishohihkan oleh Al-bany dalam Shohih Sunan Ibnu Majah)

Hikmah dalam Uban :
1. Cahaya seorang muslim .
2. Peringatan dekatnya ajal karena mayoritas tumbuh pada manula .
3. Memendekkan angan -angan .
4. Pendorong amal sholih .
5. Menambah kewibawaan .

Berkata Ibnul A’roby : ” Dilarang mencabut tanpa menyemir karena mencabut merudah ciptaan dari asalnya adapun menyemir tidak “.
tetapi dilarang menyemir uban dengan warna hitam .

Disebutkan oleh Ibnu Abdil Bar dari Ibnu Abbas : “Uban yang diubun-ubun adalah kemuliaan , uban dipelipis adalah sifat waro’, uban di kumis adalah buruk uban ditengkuk adalah celaan “.

Untaian Nasehat dan Hikmah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

 

 Untaian nasehat dan hikmah ini mudah-mudahan bisa membantu untuk melunakkan hati-hati yang keras ini 

untuk kembali menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah persinggahan dan tempat untuk menyemai benih-benih amal kita

bukan terus berpangku tangan menunggu sesuatu tanpa usaha…

serta menghapus kesedihan dengan asa yang baru….

berlarut-larut dalam kesedihan dan masyaakil akan menghancurkan qolbu mu…

jangan kau tengok masa lalumu yang kelam…kecuali untuk pelajaran masa depanmu…

beramallah berbuatlah untuk masa depanmu…..

karena harimu adalah hari ini  dan esok bukan yang telah lalu….

usahamu pada hari ini adalah untuk hari esokmu….

kegagalanmu pada hari ini bukan berarti untuk esok hari…

bangkit dan bersemangatlah untuk sesuatu yang bermanfaat bagimu kawan…..

diatas sana sedang menunggu kapan engkau tengadakan tanganmu…..

 

Hujamkan dirimu dibumi dengan kerendahan hati MU

karena segala yang tumbuh tapi tidak menghujam ke dalam bumi….

maka ia takkan menghasilakan ”buah’ yang baik nan manis……

disamping itu iapun mudah tumbang dengan hembusan angin.”

 

“. Umar bin Khatab berkata :

“ Jika engkau bersabar maka ketentuan Allah tetap berjalan dan kamu mendapat pahala…….


Dan jika ENGKAU tak sabar tetap saja berlaku ketentuan Allah sedang kamu mendapat dosa……”.

 

berkata Muhammad bin Waasi :

” sesungguhnya nasehat dan peringatan itu apabila keluar dari lubuk hati maka  akan diterima oleh hati pula “. ( SIAR 6/122 ).

 

Berkata Abdulloh bin Mubaarok :

” Aku melihat dosa-dosa itu menghantarkan hati pada kematiannya …

dan mewariskan kerendahan dan kehinaan pada pemiliknya….

dan meninggalkannya merupakan harapan kehidupan hatinya…

dan sebaik-baik diri adalah melindungi dari perbuatan dosa….

 

berkata Imam Syafi’i rahimahullah  :

” Apabila orang pandir dan bodoh mengajak bicara dan mendebatmu…

Jangan engkau jawab dan engkau layani dirinya…

Sebaik-baik jawaban bagi dirinya adalah diamnya kamu darinya…

 

 

Berkata Umar bin Khathab

 :  “Janganlah anda berjalan bersama orang fajir (yang bergelimangan dalam dosa), karena dia akan mengajarkan kepada anda perbuatan dosanya.

Berkata Muhammad bin Wasi’

 : “Tiadalah tersisa dari kenikmatan dunia, selain shalat berjama’ah dan berjumpa dengan teman (yang shalih)”.

 

Berkata Bilal bin Sa’ad 

: “Saudaramu yang selalu mengingatkanmu akan kedudukanmu di sisi Allah adalah lebih baik bagimu daripada saudaramu yang selalu memberimu dinar (harta benda)”.

Berkata sebagian salaf

 : “Orang yang paling lemah (tercela), yaitu orang yang tidak mau mencari teman (yang baik). Dan yang lebih lemah (tercela) daripadanya, ialah orang -yang apabila telah mendapatkan teman (yang baik)- ia menyiakannya.

  Abu ‘Amr ibnul ‘Ala [1] rahimahullah  berkata :

 “Berhati-hatilah engkau jika menghinakan orang yang mulia, atau memuliakan orang yang tercela, atau mempersulit urusan orang yang berakal, atau mencandai orang yang dungu, atau bergaul dengan orang yang jahat. Tidak termasuk adab apabila engkau menjawab orang yang tidak bertanya kepadamu, atau engkau bertanya kepada orang yang tidak mau menjawabmu, atau engkau mengajak bicara orang yang tidak bisa diam untuk mendengarmu.”

(Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, hlm. 82)

 

Al-Imam al-Barbahari rahimahullah

, “Jika engkau melihat seseorang duduk bersama ahli bid’ah, ingatkan dan beritahu dia. Jika ia masih saja duduk bersama ahli bid’ah setelah mengetahuinya, jauhilah dia karena sesungguhnya dia adalah pengikut hawa nafsu.” (Syarhus Sunnah poin ke-144 hlm. 121)

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Jika tampak bagimu suatu kebid’ahan dari diri seseorang, hati-hatilah engkau darinya. Sebab, yang dia sembunyikan lebih banyak daripada yang dia tampakkan.” (Syarhus Sunnah poin ke-148 hlm. 123)

Beliau rahimahullah mengatakan pula, “Berhati-hatilah, kemudian berhati-hatilah engkau dari orang-orang pada masamu secara khusus. Lihatlah siapa yang engkau ajak duduk, dari siapa engkau mendengar, dan siapa yang engkau jadikan teman. Sebab, manusia hampir-hampir berada dalam kerendahan, kecuali orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Syarhus Sunnah poin ke -150 hlm. 125)

 

al-Imam Ahmad bin Hanbalrahimahullah.

Kata beliau, “Perhatikan, kepada siapa dia singgah dan kepada siapa dia berlindung.” (al-Ibanah, 2/479-480 no. 511)

Al-Imam al-Auza’i rahimahullah

mengatakan, “Siapa yang menyembunyikan bid’ahnya dari kita, tidak akan tersembunyi dari kita pertemanannya.” (al-Ibanah, 2/476, no. 498)

Yahhya bin Sa’id al-Qaththan menceritakan, tatkala Sufyan ats Tsauri rahimahullah mengunjungi Bashrah, beliau memerhatikan keadaan ar-Rabi’ bin Shubaih dan kedudukannya di mata manusia. Beliau pun bertanya, “Apa mazhabnya?”
Mereka menjawab, “Mazhabnya tidak lain adalah as-Sunnah.”
Beliau rahimahullah bertanya lebih lanjut, “Siapa teman dekatnya?”
Mereka menjawab, “Para pengingkar takdir.”
“Jika demikian, dia adalah pengingkar takdir juga,” tukas beliau rahimahullah. (al-Ibanah, 2/453 no. 421)

[Dinukil dari Lammud Durril Mantsur, Jamal bin Furaihan al-Haritsi, hlm. 53-55]

Seputar Hewan Jalaalah ( Pemakan Kotoran )

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Ditulis oleh : al-Ustadz Abul-Hasan al-wonogiry hafizhahullah

Cikarang – Bekasi

 

Hukum Daging Hewan Jalaalah dalam Islam .

1. Pengertian jalaalah ‘.

2. hukumnya .

3. Kapan halal untuk dimakan.

4. Pengaruh buruk bagi yang makan hewan jalaalah pada akhlaq dan pada  thobiat pemakannya .

 

 Pengertian Jalaalah :

Isthilah jalalah menurut islam adalah : “ hewan yang mengkonsumsi makanan dari kotoran atau najasah dari onta , sapi , kambing atau ayam dan yang lainnya “ .

yaitu  yang mendominasi makanan yang dia makan sehari-hari sampai dikatakan hewan ini sebagai hewan pemakan kotoran adapun sesekali maka tidak masuk dalam kategori ini. sebab tidak selamat dari perkara ini mayoritas hewan baik darat atau air yang terkadang memakan kotoran baik kotoran manusia atau yang lain atau bangkai .adapun dalam qoidah syariah yang sedikit itu dimaafkan .

روى ابن عمر قال  :  نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن أكل الجلالة وألبانها]

Disebutkan dalam hadits ibnu umar rodhiallohu anhu : ” Rosululloh  melarang memakan daging  jalaalah  ( pemakan najasah  ) dan susunya  ”.  ( HR. abu daud ,tirmidzi,ibnu majah, dishohihkan oleh syeikh al-albany lihat alirwa’ 8/149  ).

وروي عن عبد الله بن عمرو بن العاص قال :  نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن الإبل الجلالة أن يؤكل بحمها ولا يحمل عليها إلا الأدم ولا يركبها الناس حتى تعلف أربعين ليلة

darinya pula : “  rosululloh melarang  jalaalah dari unta :  untuk dimakan dagingnya , untuk ditumpangi  sesuatu kecuali al-adam ( kulit )  untuk dikendarai sampai diberi makan selama 40 hari  ”  (  HR . al-khlaal dengan sanadnya ) .

 

Hukum Daging , susu dan telornya  serta hukum mengendarainya  : 

Hukum memakan daging  jalaalah ada perbedaan pendapat dikalangan ulama ada tiga pendapat  : harom , makruh , boleh . dan yang mendekati dalil adalah haromnya hewan tersebut  waallohu a’lam .

dalilnya :

روى ابن عمر قال : نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن أكل الجلالة وألبانها

Disebutkan dalam hadits ibnu umar rodhiallohu anhu : ” Rosululloh  melarang memakan daging  jalaalah  ( pemakan najasah  ) dan susunya  ”.  ( HR. abu daud ,tirmidzi,ibnu majah, dishohihkan oleh syeikh al-albany lihat alirwa’ 8/149  ).

hal itu karena daging yang tumbuh dari nya adalah dari sebab makanan tersebut maka jadilah daging tadi najis seperti abu dari hasil pembakaran najis . adapun yang mengatakan daging dan susunya tidak mengapa untuk dimakan dan dikiaskan dengan peminum khomr bahwasannya tubuhnya tidak dihukumi najis maka dijawab oleh para ulama jalaalah dengan peminum khomr berbeda , adapum dia karena mayoritas makanannya bukan dari khomr berbeda dengan jalaalah . pendapat haromnya jalaalah ini dipegang oleh imam ahmad dalam pendapat lain beliau juga berpendapat makruh .

Demikian juga susunya karena apabila dagingnya berpengaruh maka susu dan telornya juga akan berpengaruh , demikian juga  mengendarainya apabila hewan tersebut adalah hewan yang disiapkan untuk kendaraan seperti onta , kuda dll  sebagaimana tersebut dalam hadits diatas , sebagian para ulama membolehkan apabila menggunakan alas pada punggungnya karena alasan tidak boleh mengendarainya itu sebab keringat yang keluar dari hewan tadi seperti hukum dagingnya .

dalilnya :

وروي عن عبد الله بن عمرو بن العاص قال :  نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن الإبل الجلالة أن يؤكل بحمها ولا يحمل عليها إلا الأدم ولا يركبها الناس حتى تعلف أربعين ليلة

diriwayatkan dari abdulloh bin amr bin ash  : “  rosululloh melarang  jalaalah dari unta :  untuk dimakan dagingnya , untuk ditumpangkan padanya sesuatu kecuali al-udum ( kulit-kulit )  dan tidak  dikendarai sampai diberi makan selama 40 hari  ”  (  HR . al-khlaal dengan sanadnya ) .

 

Kapan dihalalkan jalaalah ?

Akan hilang hukum haromnya atau dibencinya hewan tersebut dengan dikurung dan diberi makan dengan makanan yang bersih , dan dari sini timbul perbedaan pendapat dari kalangan para ulama berapakah kadar kurungan dan pemberian makan tersebut sehingga bisa halal untuk dimakan dan dikendarai .

diriwayatkan dari muhammad dari abi hanifah beliau berkata : “ tidak ada batasan dalam mengurungnya , dikurung sampai membaik daging dan tubuhnya “. dalam ucapannya yang lain beliau berkata sebagaimana dinukil dari abu yasuf : “ dikurung selama tiga hari “.

Apabila sudah dikurung  selama tiga hari atau lebih dan diberi makan dengan makanan yang suci maka boleh disembelih dan memakannya .

disebutkan pula dari pendapat yang lain tentang kadar pengurungan ini : ” tiga hari untuk jenis burung dan 40 hari untuk yang lainnya ” dan berkata dengan ini pula imam ahmad .

disebutkan dari imam as-sarkhosy : ” yang shohih dalam hal ini adalah tidak ada pembatasan yaitu sampai hilang bau busuk dari hewan tadi “.

adapaun pembatasan tiga hari atau lebih hanya sekedar keumuman hewan apabila dikurung selama ini akan hilang apa yang ada dalam lambungnya .

disebutkan dalam hadits ibnu umar : ” bahwasannya dia dulu mengurung ayam jalaalah selama tiga hari “ . ( shohih lihat alirwa’ : 2504 ).

 

Pengaruh buruk hewan jalaalah bagi yang memakannya .

diantara hikmah larangan makan hewan ini adalah :

1 . thobi’at yang buruk pada hewan tadi akan mempengarui orang yang memakannya , dimana hewan ini sudah keluar dari thobi’at dirinya      dengan memakan makanan yang baik dan suci berpindah kepada makanan yang kotor dan najis .

   2.    kebiasaan buruk hewan tadi akan mempengarui kepribadian pemakannya , karena seseorang itu akan tumbuh sesuai pengaruh lingkungannya baik dan buruknya ,dan darinya adalah makanan , hal ini pula terdapat dalam hadits yang lain dimana para penggembala unta akan menjadi sombong karena kebiasaan nya yang mencari makan ditempat yang tinggi hal ini pun mempengarui panggembalanya demikian penggembala kambing ketenangannya mempengarui panggembalanya yang tenang tidak seperti penggembala onta , dan kita juga dilarang duduk pada kulit dari kulit macam karena hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya .

waallohu a’lam bish-shoowab .

selamat membaca semoga bermanfaat .

Pembagian Daging Aqiqoh

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Seputar  pembagian daging  aqiqoh

Ditulis oleh alfaqir ila afwi robbih : al-Ustadz Abul Hasan alwonogiry .

Cikarang – Bekasi .

        Pada tulisan ini penulis hendak menjelaskan sedikit tentang bagaiman cara membagi daging aqiqoh secara syari’at dengan menukilkan ucapan dan fatawa para ulama seputar permasalahan ini .

 

Para ulama tidak membedakan antara aqiqoh dengan hewan qurban, disebutkan disana perbedaan dan persamaan dua ibadah yang disyariatkan ini sebagaimana tersebut dalam kitab-kitab fiqh dan disini bukan tempat untuk berpanjang lebar tentang itu . dan dari persamaan hukum dari dua ibadah yang mulia  ini adalah siapa yang berhak untuk menerimanya

Disebutkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud rohima humalloh dan tidak diketahui adanya penyelisihan dari para shohabat yang lainnya : “ bahwasannya daging aqiqoh itu dibagi seperti daging kurban sepertiga untuk fuqoro’ , sepertiga untuk hadiah ,dan sepertiga untuk ahli bait “. sebagaimana disebutkan dari hadits Ibnu Abbas dan yang lainnya .

Imam Syafii’ dan Ibnu Sirin berkata : “ silahkan engkau lakukan sesuai keinginanmu pada daging aqiqohmu “ .

Ditanyakan pada ibnu sirin : “ apakah boleh dimakan semua ? beliaumenjawab : “ saya tidak mengatakan seperti itu “.

Berkata Ibnu Qudamah : Yang lebih pas dalam masalah ini adalah menqiaskan aqiqoh dengan sembelihan kurban karena nasikah itu disyari’atkan dan tidak diwajibkan sebagaiman kurban , persamaan dalam sifat , kadar , sunah serta syarat-syaratnya demikian juga orang-orang yang berhak untuk menerimanya

( al-Migny Libnil Qudamah ).

Berkata asy-Syeikh Fauzan dalam kitabnya Mulakhos Fiqhiyah : “ dicintai pada daging aqiqoh untuk makan darinya , manghadiahkan dan bershodaqoh sepertigaan seperti sembelihan qurban “.

Dan tidak diketahui dari ucapan para ulama wajib untuk menshodaqohkan semua daging baik qurban atau aqiqoh melainkan hanya sekedar afdholiah ( yang paling utama ) saja yaitu : “ membagikan semua dagingnya untuk kaum muslimin itu lebih baik dan tidak sampai pada tingkat wajib wallohu a’lam  .

Ada beberapa permasalahan dalam hal ini :

Masalah 1: “ Bagi yang diwakilkan atau diwashiatkan  apakah dia mengambil hukum yang mewakilkan atau yang mewashiatkan dalam pengambilan hak daging ini ?  

 

Jawab : “ bagi yang diwakilkan atau diwashiatkan diperbolehkan untuk mengambil daging hewan aqiqoh atau qurban  tadi seperti pemiliknya yaitu sepertiga dagingnya  sebagaimana difatwakan oleh para ulama sunah “.

 

وعن سلمة بن الأكوع رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلّم قال : ” كلوا وأطعموا وادخروا ” . رواه البخاري

Dari Salamah bin Akwa’ bahwasannya nabi bersabda : “ makanlah kalian darinya dan berilah makan dan simpanlah “ ( HR.Bukhory).

 

Masalah 2 : “ Berapakah kadar yang diperbolehkan untuk dimakan atau dihadiahkan ?

 

Jawab : “ disebutkan dalam masalah ini perkarannya luas tidak sempit yang diatur dalam kadar tertentu ,dan  yang dipilih sepertiga dimakan dan sepertiga dihadiahkan  “.

 

Masalah 3 :  “ Bolehkah menyimpan daging aqiqoh atau qurban ataukah harus dihabiskan seketika itu juga ?

 

Jawab : “ pendapat para ulama kadar daging yang boleh dimakan maka boleh disimpan,dan tidak ada batasan hari dalam menyimpan, disebutkan dalam hadits buraidah riwayat imam muslim no : 1977 : “ maka simpanlah daging itu semau kalian “.

 

Mudah-mudahan bermanfaat .

Wallohu a’lam bishshowaab .

 

Masalah Penjualan Waqaf

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ditulis oleh : Abul-Hasan alwonogiri

Cikarang-Bekasi

 

Penjelasan singkat seputar silang pendapat  para ulama tentang penjualan barang yang diwaqafkan .

Segala puji bagi alloh yang telah menciptakan manusia dan menyempurnakannya dengan akal untuk menilai dan menimbang sesuatu  yang terbaik baginya sholawat serta salam kita limpahkan kepada junjungan dan teladan kaum muslimin nabi muhammad sholallohu alaihi wasalam   adapun setelah itu :

Saya mulai dengan meminta pertolongan Alloh ta’ala :

Untuk memudahkan bagi pembaca yang budiman saya akan membagi pembahasan ini menjadi  tiga  bagian  :

  1. Gambaran yang  diperbolehkan menjual  waqaf  .
  2. Gambaran yang  dilarang menjual  waqaf .
  3. Gambaran yang diperselisihkan tentang boleh dan tidaknya untuk dipindahkan atau dijual –belikan.

Bagian pertama : Gambaran yang disepakati diperbolehkan menjual waqaf :

1/ Apabila terjadi kerusakan pada ( barang) waqaf dan tidak bisa untuk dimanfaatkan lagi maka dijual dan dibelikan yang semisalnya .

disebutkan sheikh utsaimin dalam kitabnya syarh mumti’ :

قوله: «إلا أن تتعطل منافعه» ففي هذه الحال يجوز أن يباع، كرجل أوقف داره على أولاده فانهدمت الدار، فيجوز أن تباع.

 Kata penulis : “ kecuali terabaikan atau hilang kemanfaatannya “ maka dalam keadaan ini diperbolehkan untuk dijual . seperti seorang laki-laki yang mewaqafkan rumahnya kepada anak-anaknya kemudian rumah itu mengalami  kerusakan maka boleh dijual .

Dan hasil dari penjualan tadi dipergunakan untuk membeli yang serupa atau sebagiannya dan tidak diperbolehkan hasil dari penjualannya dibagi-bagikan berupa uang kepada mereka , karena apabila dibagikan uang maka akan habis dan hilanglah maksud dari waqaf itu sendiri .

Berkata ibnu qudamah dalam kitabnya al-mughy :

لا يجوز تغيير الوقف بالبيع مع إمكان الانتفاع به

“  tidak boleh merubah waqaf  dengan memperjual-belikan apabila masih bisa dimanfaatkan “.

Ma’nanya apabila waqaf tersebut sudah tidak bisa untuk dimanfaatkan maka boleh untuk dijual dan digantikan dengan yang serupa sehingga tidak merubah maksud  dari waqaf tersebut  ,dan sema’na dengan ini disebutkan dari mazhab imam ahmad beliau membolehkan menjual waqaf apabila tidak bermanfaat lagi sebagaimana dinukilkan  dalam syarh umdahtul ahkam .

dan disebutkan pula dari al-imam abu hanifah pendapat beliau yang syadz yang memperbolehkan menjual waqf dan  menarik kembali waqaf oleh pemiliknya  dan dikritik oleh muridnya abu yusuf : ” kalau seandainya sampai kepadanya  hadits umar maka tidak akan berpendapat seperti ini “ .

disebutkan dalam fatawa lajnah addaaimah : “ diperbolehkan untuk menjual sebagian tanah waqaf untuk memperbaiki sebagiannya apabila tidak ada yang lain selain itu .

dinukilkan juga dari Fatawa wa rosaail muhammad bin ibrohim (9/113) :

جواز بيع الوقف لاختلاله وقلة مغله ولوجود الغبطة والمصلحة ، وعمارة وقف من غلة وقف آخر

“ diperbolehkan menjual waqaf  karena kurang berguna dan sedikit manfaatnya dan adanya keinginan serta kemashlahatan , dan juga memperbaiki waqaf dengan waqaf yang lainnya ( menjual sebagian waqaf untuk memperbaiki yang lainnya dengan syarat satu pemilik dan satu tujuan ). Disebutkan dalam al-inshof : “ apabila satu tujuan “.

لما روي أن عمر بن الخطاب كتب إلى سعد لما بلغه أن بيت المال الذي بالكوفة نقب : أن انقل المسجد الذي بالتمارين واجعل بيت المال قبلة المسجد ، فإنه لن يزال في المسجد مصل . وكان هذا بمشهد من الصحابة ولم يظهر خلافه .

Diriwayatkan dari umar bi alkhotob beliau mengirim surat kepada sa’ad ketika sampai kabar kepada umar kalau baitulmaal yang di kuufah dilubangi : “ pindahkanlah masjid yang ditamaariin dan tempatkan baitul maal disebelah kiblat masjid “. Padahal dimasjid masih ada yang mempergunakan untuk sholat . keputusan ini disaksikan oleh para shohabat dan mereka tidak menyelisihinya .

 

Bagian kedua : Gambaran yang disepakati dilarang menjual  waqaf tersebut .

Disebutkan dalam zaadul mustaqni :

الوقف عقد لازم لا يجوز فسخه

“ waqaf adalah aqad yang tetap tidak boleh dibatalkan “ .

Yang tidak boleh dibatalkan atau dirubah ataupun ditarik kembali seperti shodaqoh .

Apabila tidak terabaikan manfaatnya dan masih digunakan sebagaimana mestinya serta tidak ada kemashlahatan dalam menjualnya , masuk dalam hal ini juga tidak boleh untuk digadaikan dan ini hukum asal dalam waqaf tidak dijual ataupun digadai .

لا يجوز تغيير الوقف بالبيع مع إمكان الانتفاع به

“  tidak boleh merubah waqaf  dengan memperjual-belikan apabila masih bisa dimanfaatkan “.

Disebutkan dalam syarh mumti’ : “ ada perbedaan pendapat dari kalangan ulama tentang seorang yang mewaqafkan barang dalam keadaan orang ini memiliki hutang yang banyak apakah boleh dia menjual waqafnya atau tidak ?  beliau berpendapat diperbolehkan menjual waqaf tersebut unutk melunasi hutangnya karena itu wajib adapun waqaf tathowwu’ ( sunah ) saja dan ini pendapat sheikul islam sebagaiman beliau nukilkan  Adapun apabila seseorang tadi terpaksa berhutang setelah terjadi aqad waqaf maka beliau menguatkan pendapat tidak boleh dijual .

 

Bagian ketiga : Gambaran yang diperselisihkan tentang boleh dan tidaknya untuk dipindahkan atau dijual –belikan .

  1. Apabila manfaatnya sedikit  tidak hilang sama sekali atau dialihkan kepada yang lebih bermanfaat dan lebih baik apabila ada kebutuhan dan kemashlahatan .

Dalam hal ini ada selang pendapat dari para ulama apakah boleh untuk dijual kemudian dialihkan yang serupa dan lebih baik atau tidak  atau ditukar dengan yang lain yang serupa yang lebih bermanfaat  seperti tanah dengan tanah atau kuda perang dengan kuda perang yang lebih baik ?

Sebagian tidak membolehkan secara mutlak sampai benar-benar tidak bermanfaat dan hal ini menyelisihi dari maqoosidussyari’at yang mengacu pada setiap kemashlahatan .

Pendapat lain dan ini yang lebih kuat adalah diperbolehkan apabila ada kemashlahatan yang lebih baik dan kuat  berkata syeikhul islam :

جواز بيعه للمصلحة بحيث ينقل إلى ما هو أفضل، واستدل لهذا بقصة الرجل الذي نذر إن فتح الله على رسوله صلّى الله عليه وسلّم مكة أن يصلي في بيت المقدس فقال له النبي صلّى الله عليه وسلّم: «صل هاهنا» فأعاد عليه مرتين أو ثلاثاً فقال: «فشأنَك إذن» (1) .

“ diperbolehkan menjual waqaf untuk kemashlahatan seperti memindahkan kepada yang lebih afdhol “.

Beliau berdalil dengan hadits kisah seorang laki-laki yang bernadzar apabila alloh membukakan  mekah untuk nabinya akan sholat dibaitil maqdis .maka nabipun berkata padanya : “ sholatlah disini “ beliau ulangi tiga kali lantas beliau berkata : “ terserah kamu kalau begitu “.

Beiau juga berkata:

قال شيخ الإسلام ” ابن تيميهَ ” رحمه الله: “ومع الحاجة يجب إبدال الوقف بمثله، وبلا حاجة يجوز بخير منه، لظهور المصلحة”.

“ kalau ada kebutuhan wajib mengganti waqaf dengan yang semisalnya dan tanpa kebutuhan boleh mengganti dengan yang lebih baik darinya karena adanya kebaikan “.

Wallohu a’lam bishhowaab .